"Di mana kekuatan bertemu keganasan, di situ lahir legenda"
Di sebuah hutan lepas yang membentang luas di Afrika, hiduplah dua makhluk yang ditakuti sekaligus dihormati. Mereka adalah penguasa mutlak dari wilayah yang berbeda, namun takdir mempertemukan mereka di sebuah lembah yang menjadi rebutan.
"Hutan ini terlalu kecil untuk dua raja," bisik angin membawa pesan perang.
Dikenal sebagai Raja Hutan dengan surai emas yang megah. Setiap langkahnya menggetarkan bumi, setiap aumannya menggema hingga ke ujung savana. Ia percaya, kekuasaan adalah hak yang harus direbut dan dipertahankan dengan taring dan cakar.
"Tak ada yang berani menantangku... sampai hari itu tiba."
Dengan kulit setebal baja dan cula yang mampu merobek batang pohon, Badak adalah tank berdarah panas yang tak kenal takut. Ia percaya, kekuatan sejati bukan dari penampilan, tapi dari kemampuan bertahan dan menyerang tanpa ragu.
"Biarpun kau raja, aku tak akan minggir!"
Singa menerjang dengan kecepatan kilat. Cakarnya mengarah ke leher Badak, namun kulit tebal lawannya membuat serangan itu hanya meninggalkan goresan tipis. Badak hanya tertawa, lalu berbalik siap menyeruduk.
Badak berlari dengan kekuatan penuh. Cula tajamnya mengarah tepat ke perut Singa. Namun Singa dengan lincah melompat, mendarat di punggung Badak dan mencengkeramkan taringnya ke pundak lawan.
Tanah berdebu beterbangan. Auman dan dengusan memekakkan telinga. Keduanya sama-sama kuat, sama-sama keras kepala. Tak ada yang mau mengalah.
Singa terluka di kaki kirinya. Badak kehilangan sebagian culanya. Darah membasahi tanah, namun api amarah masih membara di mata mereka.
Matahari mulai tenggelam di ufuk barat. Kedua raksasa itu terengah-engah, tubuh mereka penuh luka, namun semangat mereka masih membara. Singa mengumpulkan sisa kekuatannya untuk menerkam sekali lagi. Badak menundukkan kepala, siap menyeruduk dengan sisa tenaganya.
Detik-detik terakhir pertarungan... siapakah yang akan bertahan?